Lahirnya manusia modern

Yang merupakan cirri khas Teori Kritik Masyarakat ialah bahwa teori itu berbeda dengan pemikiran filsafat yang tradisional (dHegel dan Husserl ke Heidegger) tidak bersifat kontemplatif saja dan beberapa filsuf jauh dari hidup masyarakat nyata. Melainkan Teori Kritis memandang diri sebagai pewaris cita-cita Karl Marx,  sebgai teori emansipatoriis: teori itu mau mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia.
            Teori Hegelian mudanya(kaum Hegelian Muda adalah kelompok pengkritik kerajaan Prusia yang radikal liberal, berdasarkan’interpretasi kiri; Hegel, dimana Marxpernah menjadi anggota). Teori itu mengungkapkan apa yang dirasakan oleh kelas0kelas yang tertindas sehingga kelas-kelas itu menyadari ketertindasan mereka dan memberontak. Dan paham tentang kerjasama antara filsafat dan ploletariat inilah yang muncul kembali dalam Teori Kritis. Namun Marx sndiri segera meninggalkan paham itu. Ia menulis: para filsuf hanya mengubah pengertian mereka tentang dunia, yang perlu ialah agar dunia sendiri diubah.
            Sebagai teri yang kritis maka teori yang dikembangkan Horkheimer mau menciptakan kesadaran yang kritis: Teori Kritik Masyarakat pada hakekatnya mau menjadi aufklarung. Aufklarung berarti mau membuat cerah,  mau menyingkap segala tabir yang menutup kenyataan yang tak manusiawi terhadap kesadaran kita. Dalam hubungan ini Teori Kritis mengutik ilmu-uomu positif. Dan walaupun nampaknya ilmu-ilmu positif itu rasional-itulah rasionalitas tujuan atau zweekrationaltat yang tidak mempersoalkan tujuan melainkan hanya “merasionalkan” jalan ke tujuan itu-namun dalam kenyataan ilmu-ilmu itu irasional karena tidak membahagiakan manusia dan tidak sanggup untuk mneciptakan hubungna social yang benar, yang sunggguh-sungguh manusiawi.
            Namun justru dalam usaha aufklarung ini Teori Kritik kehilangan kepercayaan sendiri. horkheimer dan Ardorno tiba-tiba menyadari bahwa system yang irasional itu malah merupakan akibat usaha manusia untuk merasionalkan hidupnya. Pengertian kunci inilah yang dijelaskan sindhunata sebagai dilemma manusia rasional. Teori Kritik dengan paling tajam merasa melihat dilemma ini. Aufklarung, jadi penjelasan rasional sendiri menjadi mitos.
            Tidak dapat disangkal bahwa justru karena kebebasan dari pelbagai pandangan dalaam teori Marx maka Teori Kritik sanggup untuk mengadakan suatu analisa baru terhadap masyarakat industry maju. Namun, betapa pun tepatnya analisa sekolah Franfurt terhadap masyarakat industry maju, teori itu gagal justru dalam claimnya yang palin inti yaitu sebagai katalisator suatu praksis emansipatoris. Mitos tentang revolusi total sebagai satu-satunya jalan untuk mendobrak manipulasi total sebaiknya dibuang asaja karena hanya melumpuhkan semangat juang. Betapa pun luasnya jaringan manipulasi, manipulasi itu tidak mungkin total; manipulasi itu dapatdisadari dapat dikritik dan langkah demi langkah ditentang.
            Horkheimer menjadi makin pesimis, ketika ia  yakin bahwaa pembebasan tidak mungkin dijalankan dalam masyarakat modern ini. Pemikirannya yang ddulu revolusioner kini menjadi lebih spekulatif dan refleksif. Ia meragukan bahwa suatu teori masih dapat mendorong lahirnya aksi untuk suatu perubahan. Filsafat lebih baik diam, merenung daripada sebelum matang gagasannya sudah dimentahkan dan dikeringkan demi suatu tindakan.
            Pada saat akhir hidupnya Horkheimer yangs semula revolusioner menjadi religious. Baginya, kebenaran itu tak mungkin tanpa menunjuk adanya Allah. Memang Horkheimer tak pernah menuntut adanya Allah yang transeden. Banginya teologi bukanlah pengetahuan tentang Tuhan melainkan ungkapan suatu kerinduan. Agama sendiri juga bukan agama seperti lazimnya melainkan sesuatu ungkapan kerinduan sejati terhadap kebenaran sempurna yang ttidak ada di dunia ini, yang tidak bisa diberikan di dunia ini. Kebenaran itu harus transeden mengatasi dunia ini; tanah airnya terletak dalam das gans andere sesuatu yang sama sekali lain”ungkapan kepesimisannya dalam pandangannya bahwa kehidupan ini tidak lagi untuk mengetahui kehidupan ini semata-mata hanya kerinduan terhadap kebenranan sejati tadi.
            Sekolah Frankfurt tak pernah mau bersekongkol dengan masyarakat dewasa ini. Mereka menginginkan pembangunan masyarakat rasional. Dengan demikian teori kritis bersoal terus-menerus dengan “pembebasan manusia”. Entah secara sosiologis(pembebasan manusia dari masyarakat yang membelenggunya), entah secara filosofis (pembebasan manusia dari ide-idenya yang dogmatis dan ideologis), supaya manusia menjadi otonom dan rasional. Maka daapatlah disingkatkan bahwa teori kritis bermaksud menjadi teori emansipatoris. Emansipasi adalah persoalan yang selalu relevan sepanjang zaman, juga buat negaara-neggara berkembang. W.F  Wertheim sendiri mengatakan bahwa pembangunan sebaiknya dimengerti sebagai emansipasi daripada  modernisasi. Emansipasi dimaksudkan sebagai pembebasan dari kealamian manusia maupun dari rintanagan yang dibuat oleh manusia sendiri. jika pembangunan diaksudkan sebagai proses emansipasi maka teori kritis yang berusaha untuk menjadi teori emansipatoris kiranya juga relevan untuk maksud itu.
            Mereka (sekolah Frankfurt) sendiri menganggap bahwa mereka bukan saja pewaris ajaran Hegelian Marxis, melsinksn pewaris dari seluruh tradisi filsafat jerman. Mereka berpendapat bahwa kekerasan itu tak ada gunanya lagi, karena ia tetap dan masih berada dalam struktur kebutuhan yang ada. Kekerasan tak bakal membuahkan perubahan masyarakat baru yang diahsilakan oleh kekerasan akan tetap berada dalam ikatan dan sifat-sifatnya yang alama sejauh kebutuhan sendiri belum dirombak.
            Berhadapan dengan jaman modern, mereka malah memesukkan ajaran Freud dalkam teori mereka, hal tersebut tidak biasa dilakukan oleh kalangan yang menyebut diri Marxis. Kalaupun terdapat analisa yang khas marxisme, disini tujuannya pun bukan demi kepentingan pilitis suatu golongan. Dengan analisa tersebut mereka hanya membuka secara tajam syarat-syarat pembebasan manusia dari masyarakat yang membelenggunya.
            Pada intinya Horkheimer mengalami dua tahap dalam pembentukkan teori kritisnya, tahap pertama adalah tahap optimis teorinya, dimana ia yakin bisa melahirkan teori kritis yang beenar-benar emannsipatoris. Tahap kedua adalah atahap pesimisnya. Tahap pesimis itu dapat dibagi menjadi dua; Pertama, ketika ia mulai meragukan usaha rasional manusia. Kedua ketika ia yakin bahwa usaha rasional manusia itu pasti akan menenmui jalan buntu.  
0 Responses